Sistem Tata Surya Kita

Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
"Tata Surya" terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar. Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km). Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingioleh satelit alami, yang biasa disebut dengan "bulan" sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.

Asal usul
Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :

Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal
dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal,
Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya
gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.

Hipotesis Planetisimal
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa awal pembentukan matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan terjadinya tonjolan pada permukaan matahari, dan bersama proses internal matahari, menarik materi berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain akan tetap di orbit, mendingin dan memadat, dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang mereka sebut planetisimal dan beberapa yang besar sebagai protoplanet. Objek- objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu dan membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya menjadi komet dan asteroid. Hipotesis Pasang Surut Bintang Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917. Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudian terkondensasi menjadi planet. Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929 membantah bahwa tabrakan yang sedemikian itu hampir tidak mungkin terjadi. Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas hipotesis tersebut.

Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa. Hipotesis Bintang Kembar Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.

Sejarah penemuan
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa
dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang sebelumnya digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543). Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.

Teleskop
Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi- Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui JohannesKepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya Pada 1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930. Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto. Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lainnya yang letaknya melampaui Neptunus (disebut objek trans-Neptunus), yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek- objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004). Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi
nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit.

Struktur
Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari, sebuah bintang deret utama kelas G2 yang mengandung 99,86 persen massa dari sistem dan mendominasi seluruh dengan gaya gravitasinya. Yupiter dan Saturnus, dua komponen terbesar yang mengedari matahari, mencakup kira-kira 90 persen massa selebihnya. Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit matahari terletak pada bidang edaran bumi, yang umumnya dinamai ekliptika. Semua planet terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan objek-objek sabuk Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibandingkan ekliptika. Planet-planet dan objek-objek Tata Surya juga mengorbit mengelilingi matahari berlawanan dengan arah jarum jam jika dilihat dari atas kutub utara matahari, terkecuali Komet Halley. Hukum Gerakan Planet Kepler menjabarkan bahwa orbit dari objek- objek Tata Surya sekeliling matahari bergerak mengikuti bentuk elips dengan matahari sebagai salah satu titik fokusnya. Objek yang berjarak lebih dekat dari matahari (sumbu semi-mayor- nya lebih kecil) memiliki tahun waktu yang lebih pendek. Pada orbit elips, jarak antara objek dengan matahari bervariasi sepanjang tahun. Jarak terdekat antara objek dengan matahari dinamai perihelion, sedangkan jarak terjauh dari matahari dinamai aphelion.
Semua objek Tata Surya bergerak tercepat di titik perihelion dan terlambat di titik aphelion. Orbit planet-planet bisa dibilang hampir berbentuk lingkaran, sedangkan komet, asteroid dan objek sabuk Kuiper kebanyakan orbitnya berbentuk elips. Untuk mempermudah representasi, kebanyakan diagram Tata Surya menunjukan jarak antara orbit yang sama antara satu dengan lainnya. Pada kenyataannya, dengan beberapa perkecualian, semakin jauh letak sebuah planet atau sabuk dari matahari, semakin besar jarak antara objek itu dengan jalur edaran orbit sebelumnya. Sebagai contoh, Venus terletak sekitar 0,33 satuan astronomi (SA) lebih dari Merkurius, sedangkan Saturnus adalah 4,3 SA dari Yupiter, dan Neptunus terletak 10,5 SA dari Uranus. Beberapa upaya telah dicoba untuk menentukan korelasi jarak antar orbit ini (hukum Titus-Bode), tetapi sejauh ini tidak satu teori pun telah diterima. Hampir semua planet-planet di Tata Surya juga memiliki sistem sekunder. Kebanyakan adalah benda pengorbit alami yang disebut satelit, atau bulan. Beberapa benda ini memiliki ukuran lebih besar dari planet. Hampir semua satelit alami yang paling besar terletak di orbit sinkron, dengan satu sisi satelit berpaling ke arah planet induknya secara permanen. Empat planet terbesar juga memliki cincin yang berisi partikel-partikel kecil yang mengorbit secara serempak.

Terminologi
Secara informal, Tata Surya dapat dibagi menjadi tiga daerah. Tata Surya bagian dalam mencakup empat planet kebumian dan sabuk asteroid utama. Pada daerah yang lebih jauh, Tata Surya bagian luar, terdapat empat gas planet raksasa. Sejak
ditemukannya SabukKuiper, bagian terluar Tata Surya dianggap wilayah berbeda tersendiri yang meliputi semua objek melampaui Neptunus. Secara dinamis dan fisik, objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan:
planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya. Planet adalah sebuah badan yang mengedari matahari dan mempunyai massa cukup besar untuk membentuk bulatan diri dan telah membersihkan orbitnya dengan menginkorporasikan semua objek-objek kecil di sekitarnya. Dengan definisi ini, Tata Surya memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan Neptunus. Pluto telah dilepaskan status planetnya karena tidak dapat membersihkan orbitnya dari objek-objek Sabuk Kuiper. Planet kerdil adalah benda angkasa bukan satelit yang mengelilingi matahari, mempunyai massa yang cukup untuk bisa membentuk bulatan diri tetapi belum dapat membersihkan daerah sekitarnya. Menurut definisi ini, Tata Surya memiliki lima buah planet kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Objek lain yang mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil adalah: Sedna, Orcus, dan Quaoar. Planet kerdil yang memiliki orbit di daerah trans-Neptunus biasanya disebut "plutoid". Sisa objek-objek lain berikutnya yang mengitari matahari adalah benda kecil Tata Surya. Ilmuwan ahli planet menggunakan istilah gas, es, dan batu untuk mendeskripsi kelas zat yang terdapat di dalam Tata Surya. Batu digunakan untuk menamai bahan bertitik lebur tinggi (lebih besar dari 500 K), sebagai contoh silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat di Tata Surya bagian dalam, merupakan komponen pembentuk utama hampir semua planet kebumian dan asteroid.

Gas
Gas adalah bahan-bahan bertitik lebur rendah seperti atom hidrogen, helium, dan gas mulia, bahan-bahan ini mendominasi wilayah tengah Tata Surya, yang didominasi oleh Yupiter dan Saturnus. Sedangkan es, seperti air, metana, amonia dan karbon dioksida, memiliki titik lebur sekitar ratusan derajat kelvin. Bahan ini merupakan komponen utama dari sebagian besar satelit planet raksasa. Ia juga merupakan komponen utama Uranus dan Neptunus (yang sering disebut "es raksasa"), serta berbagai benda kecil yang terletak di dekat orbit Neptunus. Istilah volatiles mencakup semua bahan bertitik didih rendah (kurang dari ratusan kelvin), yang termasuk gas dan es; tergantung pada suhunya, 'volatiles' dapat ditemukan sebagai es, cairan, atau gas di berbagai bagian Tata Surya.

Daftar jarak planet
Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:
57,9 juta kilometer ke Merkurius
108,2 juta kilometer ke Venus
149,6 juta kilometer ke Bumi
227,9 juta kilometer ke Mars
778,3 juta kilometer ke Jupiter
1.427,0 juta kilometer ke Saturnus
2.871,0 juta kilometer ke Uranus
4.497,0 juta kilometer ke Neptunus

Referensi:
* 1.Swedenborg, Emanuel. 1734, (Principia) Latin: Opera Philosophica et Mineralia (English: Philosophical and Mineralogical Works), (Principia, Volume 1)
* 2. See, T. J. J. (1909). "The Past History of the Earth as Inferred from the Mode of Formation of the Solar System" . Proceedings of the American Philosophical Society 48: 119 Diakses pada 23 Juli 2006.
* 3. M. M. Woolfson (1993). "The Solar System: Its Origin and Evolution" . Journal of the Royal Astronomical Society 34: 1-20 Diakses pada 16 April 2008.
* 4. Benjamin Crowell (1998-2006), Conservation Laws . lightandmatter.com.
* 5. M Woolfson (2000). "The origin and evolution of the solar system". Astronomy & Geophysics 41: 1.12. DOI:10.1046/j.1468-4004.2000.00012.x .
* 6. nineplanets.org. An Overview of the Solar System . Diakses pada 15 Februari 2007
* 7. Amir Alexander. (2006). New Horizons Set to Launch on 9-Year Voyage to Pluto and the Kuiper Belt . The Planetary Society. Diakses pada 8 November 2006
* 8. The Final IAU Resolution on the definition of "planet" ready for voting ", IAU, 2006-08-24. Diakses pada 2 Maret 2007.
* 9. Dwarf Planets and their Systems . Working Group for Planetary System Nomenclature (WGPSN). U.S. Geological Survey. Diakses pada 13 Juli 2008
* 10. Plutoid chosen as name for Solar System objects like Pluto . International Astronomical Union (News Release - IAU0804). Diakses pada 11 Juni 2008
* 11. Feaga, L (2007). "Asymmetries in the distribution of H2O and CO2 in the inner coma of Comet 9P/Tempel 1 as observed by Deep Impact". Icarus 190: 345. DOI:10.1016/j.icarus.2007.04.009 .
* 12. Michael Zellik (2002). Astronomy: The Evolving Universe, 9th, Cambridge University Press, 240. ISBN 0521800900. OCLC 223304585 46685453 .
* 13. Smart, R. L.; Carollo, D.; Lattanzi, M. G.; McLean, B.; Spagna, A.. (2001). The Second Guide Star Catalogue and Cool Stars . Perkins Observatory. Diakses pada 26 Desember 2006
* 14. Nir J. Shaviv (2003). "Towards a Solution to the Early Faint Sun Paradox: A Lower Cosmic Ray Flux from a Stronger Solar Wind" . Journal of Geophysical Research 108: 1437. DOI:10.1029/2003JA009997 Diakses pada
* 26 Januari 2009.
* 15. T. S. van Albada, Norman Baker (1973). "On the Two Oosterhoff Groups of Globular Clusters". Astrophysical Journal 185: 477-498. DOI:10.1086/152434 .
* 16. Charles H. Lineweaver. An Estimate of the Age Distribution of Terrestrial Planets in the Universe: Quantifying Metallicity as a Selection Effect . University of New South Wales. Diakses pada 23 Juli 2006
* 17. Solar Physics: The Solar Wind . Marshall Space Flight Center. Diakses pada 3 Oktober 2006
* 18. Phillips, Tony The Sun Does a Flip . Science@NASA. Diakses pada 4 Februari 2007
* 19. A Star with two North Poles , April 22, 2003, Science @ NASA
* 20. Riley, Pete; Linker, J. A.; Mikic, Z., "Modeling the heliospheric current sheet: Solar cycle variations ", (2002) Journal of Geophysical Research (Space Physics), Volume 107, Issue A7, pp. SSH 8-1, CiteID 1136, DOI 10.1029/2001JA000299. (Full text )
* 21. Lundin, Richard (2001-03-09). "Erosion by the Solar Wind". Science 291 (5510): 1909. DOI:10.1126/science.1059763 abstract full text .
* 22. Langner, U. W., M.S. Potgieter (2005). "Effects of the position of the solar wind termination shock and the heliopause on the heliospheric modulation of cosmic rays" . Advances in Space Research 35 (12): 2084-2090. DOI:10.1016/ j.asr.2004.12.005 Diakses pada 11 Februari 2007.
* 23. (1998). Long-term Evolution of the Zodiacal Cloud . Diakses pada 3 Februari 2007
* 24. (2003). ESA scientist discovers a way to shortlist stars that might have planets . ESA Science and Technology. Diakses pada 3 Februari 2007
* 25. Landgraf, M., Liou, J.-C.; Zook, H. A.; Grün, E. (May 2002). "Origins of Solar System Dust beyond Jupiter" . The Astronomical Journal 123 (5): 2857-2861. DOI:10.1086/339704 Diakses pada 9 Februari 2007.
* 26. Schenk P., Melosh H.J. (1994), Lobate Thrust Scarps and the Thickness of Mercury's Lithosphere, Abstracts of the 25th Lunar and Planetary Science Conference, 1994LPI....25.1203S
* 27. Bill Arnett. (2006). Mercury . The Nine Planets. Diakses pada 14 September 2006
* 28. Benz, W., Slattery, W. L., Cameron, A. G. W. (1988), Collisional stripping of Mercury's mantle, Icarus, v. 74, p. 516- 528.
* 29. Cameron, A. G. W. (1985), The partial volatilization of Mercury, Icarus, v. 64, p. 285-294.
* 30. Mark Alan Bullock. "The Stability of Climate on Venus " (PDF). Southwest Research Institute. Diakses pada 26 Desember 2006.
* 31. Paul Rincon. (1999). Climate Change as a Regulator of Tectonics on Venus . (PDF) Johnson Space Center Houston, TX, Institute of Meteoritics, University of New Mexico, Albuquerque, NM. Diakses pada 19 November 2006
* 32. Anne E. Egger, M.A./M.S.. Earth's Atmosphere: Composition and Structure . VisionLearning.com. Diakses pada 26 Desember 2006
* 33. David Noever. (2004). Modern Martian Marvels: Volcanoes? . NASA Astrobiology Magazine. Diakses pada 23 Juli 2006
* 34. Scott S. Sheppard, David Jewitt, and Jan Kleyna. (2004). A Survey for Outer Satellites of Mars: Limits to Completeness . The Astronomical Journal. Diakses pada 26 Desember 2006
* 35. Are Kuiper Belt Objects asteroids? Are large Kuiper Belt Objects planets? . Cornell University. Diakses pada 1 Maret 2009
* 36. Petit, J.-M.; Morbidelli, A.; Chambers, J. (2001). "The Primordial Excitation and Clearing of the Asteroid Belt" (PDF). Icarus 153: 338-347. DOI:10.1006/ icar.2001.6702 Diakses pada 22 Maret 2007.
* 37. (2006). IAU Planet Definition Committee . International Astronomical Union. Diakses pada 1 Maret 2009
* 38. (2002). New study reveals twice as many asteroids as previously believed . ESA. Diakses pada 23 Juni 2006
* 39. a b Krasinsky, G. A., Pitjeva, E. V.; Vasilyev, M. V.; Yagudina, E. I. (July 2002). "Hidden Mass in the Asteroid Belt" . Icarus 158 (1): 98-105. DOI:10.1006/icar.2002.6837 .
* 40. Beech, M., Duncan I. Steel (September 1995). "On the Definition of the Term Meteoroid" . Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society 36 (3): 281- 284 Diakses pada 31 Agustus 2006.
* 41. History and Discovery of Asteroids . (DOC) NASA. Diakses pada 29 Agustus 2006
* 42. Phil Berardelli. (2006). Main-Belt Comets May Have Been Source Of Earths Water . SpaceDaily. Diakses pada 23 Juni 2006
* 43. Jack J. Lissauer, David J. Stevenson. (2006). Formation of Giant Planets . (PDF) NASA Ames Research Center; California Institute of Technology. Diakses pada 16 Januari 2006
* 44. Pappalardo, R T. (1999). Geology of the Icy Galilean Satellites: A Framework for Compositional Studies . Brown University. Diakses pada 16 Januari 2006
* 45. J. S. Kargel. (1994). Cryovolcanism on the icy satellites . U.S. Geological Survey. Diakses pada 16 Januari 2006
* 46. Hawksett, David; Longstaff, Alan; Cooper, Keith; Clark, Stuart. (2005). 10 Mysteries of the Solar System . Astronomy Now. Diakses pada 16 Januari 2006
* 47. Podolak, M.; Reynolds, R. T.; Young, R.. (1990). Post Voyager comparisons of the interiors of Uranus and Neptune . NASA, Ames Research Center. Diakses pada 16 Januari 2006
* 48. Duxbury, N.S., Brown, R.H.. (1995). The Plausibility of Boiling Geysers on Triton . Beacon eSpace. Diakses pada 16 Januari 2006
* 49. Sekanina, Zdenek (2001). "Kreutz sungrazers: the ultimate case of cometary fragmentation and disintegration?". Publications of the Astronomical Institute of the Academy of Sciences of the Czech Republic 89 p.78-93.
* 50. Królikowska, M. (2001). "A study of the original orbits of hyperbolic comets" . Astronomy & Astrophysics 376 (1): 316-324. DOI:10.1051/0004-6361:20010945 Diakses pada 2 Januari 2007.
* 51. Fred L. Whipple. The activities of comets related to their aging and origin . Diakses pada 26 Desember 2006
* 52. John Stansberry, Will Grundy, Mike Brown, Dale Cruikshank, John Spencer, David Trilling, Jean-Luc Margot. (2007). Physical Properties of Kuiper Belt and Centaur Objects: Constraints from Spitzer Space Telescope . Diakses pada 21 September 2008
* 53. Patrick Vanouplines. (1995). Chiron biography . Vrije Universitiet Brussel. Diakses pada 23 Juni 2006
* 54. List Of Centaurs and Scattered-Disk Objects . IAU: Minor Planet Center. Diakses pada 2 April 2007
* 55. a b Audrey Delsanti and David Jewitt. (2006). The Solar System Beyond The Planets . (PDF) Institute for Astronomy, University of Hawaii. Diakses pada 3 Januari 2007
* 56. M. W. Buie, R. L. Millis, L. H. Wasserman, J. L. Elliot, S. D. Kern, K. B. Clancy, E. I. Chiang, A. B. Jordan, K. J. Meech, R. M. Wagner, D. E. Trilling. (2005). Procedures, Resources and Selected Results of the Deep Ecliptic Survey . Lowell Observatory, University of Pennsylvania, Large Binocular Telescope Observatory, Massachusetts Institute of Technology, University of Hawaii, University of California at Berkeley. Diakses pada 7 September 2006
* 57. E. Dotto1, M.A. Barucci2, and M. Fulchignoni. Beyond Neptune, the new frontier of the Solar System . (PDF) Diakses pada 26 Desember 2006
* 58. Fajans, J., L. Frièdland (October 2001). "Autoresonant (nonstationary) excitation of pendulums, Plutinos, plasmas, and other nonlinear oscillators". American Journal of Physics 69 (10): 1096-1102. DOI:10.1119/1.1389278 abstract full text .
* 59. Marc W. Buie. Orbit Fit and Astrometric record for 136472 . SwRI (Space Science Department). Diakses pada 13 Juli 2008
* 60. David Jewitt. (2005). The 1000 km Scale KBOs . University of Hawaii. Diakses pada 16 Juli 2006
* 61. Mike Brown. (2005). The discovery of 2003 UB313 Eris, the 10th planet largest known dwarf planet. . CalTech. Diakses pada 15 September 2006
* 62. Stern SA, Weissman PR.. (2001). Rapid collisional evolution of comets during the formation of the Oort cloud. . Space Studies Department, Southwest Research Institute, Boulder, Colorado. Diakses pada 19 November 2006
* 63. Bill Arnett. (2006). The Kuiper Belt and the Oort Cloud . nineplanets.org. Diakses pada 23 Juni 2006
* 64. T. Encrenaz, JP. Bibring, M. Blanc, MA. Barucci, F. Roques, PH. Zarka (2004). The Solar System: Third edition. Springer, 1.
* 65. Durda D.D.; Stern S.A.; Colwell W.B.; Parker J.W.; Levison H.F.; Hassler D.M.. (2004). A New Observational Search for Vulcanoids in SOHO/LASCO Coronagraph Images . Diakses pada 23 Juli 2006
* 66. A.D. Dolgov. (2003). Magnetic fields in cosmology . Diakses pada 23 Juli 2006
* 67. R. Drimmel, D. N. Spergel. (2001). Three Dimensional Structure of the Milky Way Disk . Diakses pada 23 Juli 2006
* 68. Leong, Stacy (2002). Period of the Sun's Orbit around the Galaxy (Cosmic Year . The Physics Factbook. Diakses pada 2 April 2007
* 69. C. Barbieri. (2003). Elementi di Astronomia e Astrofisica per il Corso di Ingegneria Aerospaziale V settimana . IdealStars.com. Diakses pada 12 Februari 2007
* 70. Leslie Mullen. (2001). Galactic Habitable Zones . Astrobiology Magazine. Diakses pada 23 Juni 2006
* 71. (2005). Supernova Explosion May Have Caused Mammoth Extinction . Physorg.com. Diakses pada 2 Februari 2007
* 72. Near-Earth Supernovas . NASA. Diakses pada 23 Juli 2006
* 73. Stars within 10 light years . SolStation. Diakses pada 2 April 2007
* 74. Tau Ceti . SolStation. Diakses pada 2 April 2007
* 75. (2006). HUBBLE ZEROES IN ON NEAREST KNOWN EXOPLANET . Hubblesite.
* 76. Alessandro Morbidelli. (2006). Origin and dynamical evolution of comets and their reservoirs . CNRS, Observatoire de la Côte d'Azur. Diakses pada 3 Agustus 2007.

Kalau ada pertanyaan atau anda suka dengan "Sistem Tata Surya Kita" di atas silahkan masuk pada kolom komentar di bawah. Thanks.
Aristokrat Label: 18.00.00 0 komentar
Posting Komentar
Sebelum Anda meninggalkan halaman ini, silahkan masukkan "KOMENTAR" Anda.

to top Page Up Page Down to Bottom Auto Scroll Stop Scroll